Selamat Datang

Bagi pecinta dunia pengetahuan selamat datang dan selamat mengasah, asih dan asuh untuk kesejahteraan bagi diri dan lingkungannya......

Selasa, 28 Juli 2009

ARTIKEL

PRESTASI

Prestasi merupakan hal yang selalu diharapkan dalam kegiatan. Prestasi adalah puncak dari kegiatan. Prestasi dapat dikatakan berhasil bila telah dicapai tingkat keberhasilan minimal sepadan dari pada tujuan. Kegiatan apa saja baik dalam segala kecil maupun besar bila harapan atau tujuan yang akan dicapai terpenuhi maka secara naluri akan terpuaskan.
Bagi seorang pendidik ( baca: guru ) membangun prestasi bisa dimulai dari hal yang kecil misalkan makan dengan tangan kanan. Masuk kelas dengan kaki kanan. Selalu menutup mulut bila bersendawa. Dan masih banyak lagi hal kecil yan mesti dibenahi. Karena guru adalah panutan bagi lingkungannya terutama anak didik.
Sering kita terbelenggu tentang makna prestasi. Kita selalu mengejar hal besar tetapi hal yan sepele nan kecil tak tesentuh sedikitpun. Pendidikan yang menjadikan output sikap menjadi salah satu tujuan maka tidak mengherankan bila kita juga terpacu dan memacu untuk hal tesebut.
Dalam skala besar memang kita dituntut berdaya saing bidang kognitif dan psychomotor tetapi jangan sekali-kali mengabaikan hal afektifnya.
Manusia dikatakan berprestasi bila bisa merubah kedaan nafsu yang jelek menjadi kondisi nafsu yang kondusif. Guru merasa berhasil bila dalam pembelajaranya tidak hanya mentransfer sejumlah kasanah kognitif dan pemberdayaan psikomotor saja tetapi dibarengi terpatrinya afektif pada sikap individu peserta didik. Inilah yang dikatakan pemberdayaan secara keseluruhan.

Prestasi akademik anak didik

Bagi semua orang pada umumnya dan seorang guru pada khususnya memang merasa bahagia bila hal yang diidam-idamkanm menjadi terwujud dan terlaksana. Kita sering terlibat aktif dalam pemberdayaan anak didik. Dalam hal ini kita harus mampu mendidik dan mengajar dengan manajemen yang tepat. Apabila kita akan membuat proyek supaya anak didik kita bisa meraih juara dalam ajang prestasi maka langkah pertama harus kita tempuh adalah mencari bibit sedini mungkin. Anak kelas 1 adalah obyek yang akan kita jadikan bibit. Mana anak yang pandai dan cakap dalam mata pelajaran tertentu harus mendapat perhatian khusus untuk diberdayakan dalam persiapan menjadi duta sekolah sebagai peserta ajang lomba mata pelajaran.
Lomba mata pelajaran sering menjadi agenda rutin setiap tahunnya. Untuk lomba mata pelajaran tertentu misalkan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA ), Matematika, Bahasa Indonesia dan lain-lain yang pesertanya nota bene adalah kelas V atau juga bisa kelas IV. Setelah kita mencari bibit sejak dini pada kelas I maka langkah selanjutnya adalah pada kelas II. Oleh gurunya diberi semacam latihan soal sederhana untuk spesifikasi mata pelajaran yang spesifik lagi. Maka pada kelas III langsung di beri pembinaan yang intensif. Dengan pembinaan intensif setiap minggu sekian pertemuan maka khasanah materi dan khasanah latihan soal akan lebih banyak terserap oleh si anak didik tersebut. Maka pada tahap berikutnya adalah pada kelas IV. Pada kelas ini pelatihan dan tray out harus sering ditingkatkan dari segi kualitas dan kuantitas. Dari segi kualitas bisa berupa tingkat kesulitan soal perlu ditingkatkan. Dari segi kuantitas adalah banyaknya serapan oleh anak tentang materi dan jumlah soal untuk dipelajari dan dilatihkan. Maka yang terakhir adalah bila pada kelas V ada lomba mata pelajaran, siswa kita yang sudah dipersiapkan dengan matang dalam waktu yang lama diharapkan akan membawa prestasi yang bisa mengharumkan sekolah, masyarakat, kecamatan, kabupaten bahkan bisa maju melaju di ajang bergengsi lomba di tingkat nasional.

Mentalitas

Sering kita terbelenggu oleh konsep rasionalitas bahwa semua bisa diukur secara rasio atau akal pikiran manusia. Membentuk pola pikir dengan diimbangi kemampuan mental yang prima adalah suatu keharusan. Sering kita terjebak bahwa tugas kita sebagai guru hanya mentrasfer sejumlah ilmu pengetahuan. Selanjutnya mental adalah sering kali kita abaikan. Pembentukan karakter mental yang harus kita bangun adalah bahwa segala sesuatu ada yang menggerakkan. Penanaman konsep seperti ini harus selalu tumbuh dan menjalar pada setiap individu. Terutama anak didik yang bisa kita ibaratkan sebagai tanaman yang perlu sekali pengolahan, pemupukan dan perawatan sehingga menjadi manusia-manusia unggul dalam prestasi dan bagus dalam aplikasi hati nurani.
Penanaman konsep doa harus selalu didengungkan setiap waktu. Ini supaya anak didik selalu berhubungan secara vertikal pada sang Khalik. Dengan hal seperti itu maka terdapat rasa membutuhkan pada Sang Penciptanya. Tuhan berfirman yang artinya Berdoalah kepada Aku ( Allah ) niscaya Aku kabulkan. Dalam Surat Al baqoroh ayat 186 Tuhan berfirman : Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman Kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
Maka dengan merujuk dari firman Tuhan tersebut, berdoa adalah semacam perintah. Karena ini perintah kalau dilaksanakan merupakan salah satu ciri orang yang bertaqwa.
Bila kita akan melaksanakan sesuatu terutama dalam hal lomba mesti ada baiknya bila satu lingkup tertentu melakukan doa bersama demi suksesnya acara dan yang tak kalah pentingnya adalah supaya Tuhan memberikan jalan yang terbaik menurut kehendak Tuhan. Karena kehendak Tuhan adalah kehendak yang sempurna. Kalau kita manusia selalu punya kemauan tetapi sering mengabaikan kuasa Tuhan.
Membangun prestasi harus dibarengi dengan membangun mentalitas. Sebab prestasi selalu berhubungan dengan mentalitas. Mental yang baik akan menimbulkan hal yang baik pula. Prestasi yang diraih adalah karunia. Maka sepantasnya bila disyukuri. Tetapi mungkin kita sering bersingungan dengan kalayak lain yang menilai negatif terhadap kita. Maka konsep yang kita bangun adalah mental awal yang baik pula dan harus sangat kokoh. Semakin tinggi suatu pohon maka semakin kencang angin menerpanya. Itu juga berlaku bagi manusia. Maka yang terpenting siap konsekuensi dalam setiap tindakan. Jadi pada akhirnya prestasi harus diusahakan untuk kita raih baik bagi siswa juga bagai sang guru dan harus terbalut dalam baju mental positif dan kondusif. Membangun prestasi harus dimulai dari diri pribadi sebagai tauladan dan ditranfer untuk obyek ( siswa ) untuk menciptakan generasi yang tangguh, handal tetapi tetap dalam iman.


Email : kastowojatilawang@yahoo.com
Web : http://jatilawang-tulisan.blogspot.com

Tidak ada komentar:

jangan ditiru...!!!!

jangan ditiru...!!!!

ALBUMKU......