PERMENDIKBUD

Selasa, 17 Februari 2026

CERITA ANAK : Kelinci Cerdik dan Musang yang Lapar

 Pertemuan di Semak Belukar

Di hutan kecil yang selalu hijau dan harum bunga, hiduplah seekor kelinci putih bernama Kiko. Bulunya lembut seperti kapas, telinganya panjang selalu bergerak-gerak mendengar suara, dan matanya cokelat cerah penuh rasa ingin tahu. Setiap pagi, Kiko melompat-lompat dari lubang pohon tuanya menuju kebun wortel kecil di pinggir sungai. “Hop hop hop! Hari ini wortel pasti paling manis!” katanya sambil bernyanyi kecil.

Tidak jauh dari kebun itu, di balik semak belukar yang agak gelap dan berduri, tinggallah seekor musang kecil bernama Momo. Bulunya cokelat mengkilap, ekornya panjang lentur, tapi matanya sering terlihat sedih. Rumah pohon kecilnya roboh diterpa angin besar seminggu lalu. Sejak itu Momo tidur di semak-semak, merasa dingin dan kesepian. “Tidak ada yang mau berteman dengan musang,” gumamnya setiap malam sambil memeluk ekornya sendiri.

Suatu sore yang cerah, angin membawa aroma wortel segar ke hidung Momo. Perutnya keroncongan keras. “Mungkin aku bisa mencuri satu saja… cuma satu,” pikirnya. Dengan langkah pelan dan hati-hati, Momo menyelinap mendekati kebun Kiko.

Tapi nasib berkata lain. Saat melompat melewati semak besar, kaki Momo tersangkut di antara akar pohon yang menonjol. “Aduh! Aduh sakit!” jeritnya pelan sambil berusaha menarik kaki. Semakin ditarik, semakin terjepit. Momo panik. Air matanya hampir jatuh. “Kalau malam tiba, aku sendirian di sini… lagi…”

Tak jauh dari situ, Kiko sedang memilih wortel-wortel terbaik. Telinganya yang sensitif langsung berdiri tegak mendengar suara “Aduh… aduh…” yang samar-samar. “Itu suara siapa ya?” gumam Kiko. Dia meletakkan keranjang wortelnya, lalu melompat pelan-pelan mendekati semak.

Dari balik daun lebar, Kiko melihat seekor musang kecil yang sedang meringkuk. Matanya besar, bulunya berantakan, dan kakinya terjepit akar. Kiko tahu musang biasanya suka makan kelinci kecil seperti dirinya. Tapi… musang itu tampak sangat kecil dan ketakutan.

Kiko menelan ludah. “Halo… kamu baik-baik saja?” tanyanya dengan suara lembut.

Momo menoleh cepat, badannya gemetar. “J-jangan dekati aku! Aku… aku musang!”

Kiko tidak mundur. Dia malah mendekat sedikit lagi. “Aku Kiko. Kamu terjebak ya? Tunggu sebentar, aku bantu.”

Momo terkejut. “Kamu… tidak takut padaku?”

Kiko tersenyum kecil. “Aku takut kalau kamu kesakitan dan tidak ada yang menolong. Tunggu ya, aku gali tanahnya sedikit.”

Dengan cakar kecilnya yang kuat, Kiko mulai menggali tanah di sekitar akar. Dia menggali pelan tapi pasti. Momo hanya bisa menatap dengan mata membulat. Tak pernah ada hewan lain yang mau mendekatinya, apalagi menolong.

Setelah beberapa menit, akar itu longgar. “Coba tarik kakimu sekarang!” kata Kiko.

Momo menarik kakinya perlahan… dan berhasil! Dia langsung melompat keluar, meski sedikit pincang. “Terima kasih…” bisiknya hampir tak terdengar.

Kiko mengangguk. “Namamu siapa?”

“Momo,” jawab musang kecil itu sambil menunduk. “Aku… biasanya sendirian.”

Kiko memandang langit yang mulai jingga. “Kalau begitu, ayo ikut aku ke kebunku. Aku punya wortel enak. Kita makan bareng, boleh?”

Momo ragu-ragu, tapi perutnya keroncongan lagi. Akhirnya dia mengangguk pelan.

Begitulah, di bawah sinar matahari sore yang hangat, dua hewan yang sangat berbeda mulai berjalan berdampingan menuju kebun wortel. Kiko melompat riang, Momo berjalan pincang tapi senang… karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang mau menjadi temannya.



Kelinci Baik Hati Menolong

Kiko berdiri di depan semak belukar, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Di depannya, seekor musang kecil meringkuk dengan kaki terjepit akar pohon yang besar dan bengkok. Musang itu—Momo—memandangnya dengan mata besar yang penuh ketakutan, bulu cokelatnya kusut, dan napasnya tersengal.

Kiko tahu betul cerita-cerita yang sering dibisikkan hewan-hewan kecil di hutan: “Jangan dekat-dekat musang, mereka suka menyergap dari belakang!” Telinganya bergetar pelan. Bagian kecil di hatinya berbisik, “Lari saja, Kiko. Lompat cepat ke kebunmu, aman di sana.”

Tapi Kiko tidak bergerak mundur. Dia melihat Momo menggigit bibir bawahnya sendiri, mencoba menahan tangis. Kaki musang itu bengkak sedikit, dan tanah di sekitarnya sudah berlubang karena Momo berusaha menarik-narik kakinya sendiri. Tidak ada tanda-tanda dia sedang mengintai atau berpura-pura. Hanya seekor hewan kecil yang kesakitan dan sendirian.

“Aku… aku akan menolongmu,” kata Kiko akhirnya, suaranya agak gemetar tapi tegas. “Tapi janji ya, jangan gigit aku.”

Momo mengangguk cepat-cepat. “Aku janji! Aku… aku cuma mau keluar dari sini. Sakit sekali…”

Kiko menghela napas panjang, lalu mulai bekerja. Dia jongkok, mendekatkan hidungnya ke akar yang menjepit. Akar itu tebal dan keras, tapi tanah di sekitarnya lunak karena hujan kemarin. Dengan cakar depannya yang tajam dan kuat—hasil menggali lubang setiap hari—Kiko mulai mengorek tanah pelan-pelan.

“Sedikit lagi… sedikit lagi…” gumam Kiko pada dirinya sendiri. Tanah beterbangan kecil-kecil ke samping, menempel di bulu putihnya. Momo diam saja, hanya sesekali meringis saat akar bergeser sedikit dan menyentuh lukanya.

Beberapa menit berlalu. Kiko mulai berkeringat di bawah bulu tebalnya. Tapi dia tidak berhenti. “Coba tarik kakimu pelan-pelan sekarang,” katanya sambil mendorong akar ke samping dengan kedua tangan kecilnya.

Momo menarik napas dalam-dalam, lalu menarik kakinya perlahan. “Aaaah…!” Akar itu akhirnya lepas. Kaki Momo bebas! Dia langsung melompat mundur satu langkah, hampir jatuh karena kakinya masih lemas.

Kiko langsung mundur juga, tapi tidak lari. Dia hanya berdiri di tempat, memandang Momo dengan hati-hati.

Momo menggosok-gosok kakinya yang sakit, lalu menatap Kiko lama sekali. Matanya yang tadinya penuh ketakutan sekarang berkaca-kaca karena sesuatu yang lain. “Kamu… benar-benar menolong aku,” bisiknya. “Padahal aku musang. Semua orang takut padaku.”

Kiko menggaruk-garuk telinganya yang panjang, agak malu. “Aku juga takut tadi. Tapi… kalau aku pergi, kamu bakal sendirian di sini sampai malam. Aku nggak tega.”

Momo menunduk. “Terima kasih, Kiko. Aku… aku nggak tahu harus bilang apa lagi.”

Kiko tersenyum kecil, telinganya kembali rileks. “Nggak usah bilang apa-apa. Yang penting kakimu sudah bebas. Sekarang… mau ikut ke kebunku? Aku punya wortel segar. Mungkin bisa bikin kakimu lebih enak kalau dimakan bareng.”

Momo terkejut. “Wortel? Aku… aku belum pernah makan wortel.”

“Wah, berarti hari ini hari pertama yang spesial!” kata Kiko sambil melompat kecil riang. “Ayo, pelan-pelan saja jalannya. Aku tunggu.”

Momo ragu sejenak, lalu mulai berjalan pincang mengikuti Kiko. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang kesepian, ada seekor kelinci kecil yang berjalan di depannya—bukan sebagai mangsa, tapi sebagai teman.

Matahari sore menyinari mereka berdua. Bayangan kelinci putih dan musang cokelat berjalan berdampingan di rumput hijau, semakin menjauh dari semak belukar yang gelap.


Kelinci Baik Hati Menolong Kiko berdiri di depan Momo yang terjepit. Jantungnya berdegup kencang. “Musang suka makan kelinci,” bisik pikirannya. Tapi melihat Momo meringis kesakitan, air mata hampir jatuh, Kiko tidak tega. “Aku akan menolongmu,” katanya tegas meski suaranya gemetar. “Janji ya, jangan gigit aku.” Momo mengangguk cepat. Kiko mulai menggali tanah lunak di sekitar akar dengan cakar kecilnya yang kuat. Tanah beterbangan, menempel di bulu putihnya. Momo diam menatap, tak percaya ada yang mau menolongnya. Setelah beberapa menit, akar longgar. “Tarik kakimu pelan!” kata Kiko. Momo menarik… dan berhasil! Ia melompat keluar, pincang tapi lega. “Terima kasih, Kiko…” bisiknya. Kiko menggaruk telinga. “Aku juga takut tadi, tapi kalau aku pergi, kamu sendirian sampai malam.” Momo menunduk malu. “Aku nggak tahu harus bilang apa.” Kiko tersenyum. “Ayo ikut ke kebunku. Kita makan wortel bareng!” Mereka berjalan berdampingan, bayangan kelinci dan musang memanjang di rumput hijau, tanda awal kebersamaan.

Charming Weasel Stock Illustrations – 599 Charming Weasel Stock Illustrations, Vectors & Clipart - Dreamstime

3. Wortel Manis untuk Teman Baru Di kebun wortel Kiko, mereka duduk di bawah pohon rindang. Kiko membagi wortel besar menjadi dua. “Coba ini, manis sekali!” Momo ragu, karena biasanya ia makan daging kecil-kecil. Tapi perutnya keroncongan. Ia gigit kecil… lalu matanya berbinar. “Wah… enak! Lebih enak dari yang kubayangkan!” Kiko tertawa. “Kan kubilang!” Mereka makan sambil bercerita. Kiko cerita tentang lubang pohon hangatnya, Momo cerita tentang rumahnya yang roboh dan kesepiannya. “Aku pikir semua hewan takut padaku,” kata Momo sedih. Kiko menggeleng. “Aku dulu juga takut, tapi sekarang senang punya teman baru.” Matahari mulai jingga, mereka tertawa bersama. Momo merasa hangat di hati, bukan hanya dari wortel, tapi dari kebaikan Kiko. Hari itu, musang yang lapar mulai belajar arti berbagi dan persahabatan.

4. Petualangan di Sungai Kecil Keesokan harinya, Kiko mengajak Momo bermain di sungai kecil. “Ayo lomba lompat batu!” kata Kiko riang. Momo yang lincah melompat cepat, Kiko melompat tinggi. Mereka jatuh tertawa saat basah kuyup. Momo ajari Kiko cara menyeberang tanpa jatuh, Kiko ajari Momo cara menggali lubang kecil untuk simpan buah. Di tepi sungai, mereka menemukan buah beri merah. “Bagi dua ya!” kata Kiko. Momo tersenyum. “Iya, bagi dua!” Mereka duduk bercerita lagi, tentang mimpi masing-masing. Momo ingin punya rumah aman lagi, Kiko ingin kebun wortelnya selalu hijau. “Kita bantu satu sama lain,” usul Kiko. Momo mengangguk bahagia. Petualangan kecil itu membuat mereka semakin dekat, seperti dua sahabat yang saling melengkapi.

5. Hujan Deras Mengancam Kebun Tiba-tiba langit gelap. Hujan deras turun tanpa henti! Sungai meluap, air naik ke kebun wortel Kiko. “Wortelku! Hampir hanyut!” jerit Kiko panik. Momo datang berlari meski basah. “Aku bantu, Kiko!” Air deras mengalir kencang, wortel-wortel tercabut. Kiko sedih melihat kebun kesayangannya terancam. Momo bilang, “Kita harus cepat!” Mereka berdua berjuang di tengah hujan, hati mereka satu tujuan: selamatkan kebun bersama.

Nature Cat - Tally Ho! A Rainbow (S1E17)

6. Bekerja Sama Menyelamatkan Wortel Momo berlari cepat mengambil wortel yang tercecer, sementara Kiko menggali saluran kecil agar air mengalir ke arah lain. “Cepat, Momo! Lempar ke sini!” teriak Kiko. Momo lincah melompat-lompat, mengumpulkan wortel meski hujan membasahi bulunya. Kiko mendorong tanah dengan sekuat tenaga. Akhirnya, saluran jadi! Air berbelok, kebun selamat. Hujan reda, mereka basah kuyup tapi tersenyum lebar. “Tanpa kamu, semuanya hilang,” kata Kiko memeluk Momo. “Dan tanpa kamu, aku tak punya teman,” balas Momo. Mereka tertawa bahagia di bawah langit cerah kembali.

7. Sahabat Selamanya di Hutan Hijau Setelah itu, Momo membuat lubang rumah baru dekat pohon Kiko. Setiap sore mereka duduk bersama, makan wortel dan beri, bercerita, dan bermain. Hutan terasa lebih cerah karena ada dua sahabat: kelinci cerdik yang baik hati dan musang lincah yang setia. Mereka saling janji, “Selamanya teman!”

Owl Embracing Stock Illustrations – 193 Owl Embracing Stock Illustrations, Vectors & Clipart - Dreamstime

8. Pelajaran dari Hati yang Baik Dari petualangan itu, Kiko dan Momo belajar: teman sejati tak dilihat dari bentuk atau kebiasaannya, tapi dari hati yang mau saling tolong dan mengerti. Di hutan hijau, persahabatan mereka tumbuh seperti wortel yang manis—kuat, manis, dan tak pernah layu.



Tidak ada komentar: