RPP Kelas 6 semester 1, silahkan klik di sini
PERMENDIKBUD
Selasa, 28 Juni 2011
RPP Matematika Kelas 6 Smt 1
Label:
RPP kelas 6 SD

Senin, 27 Juni 2011
Peletak Dasar Sosiologi
Peletak
Dasar Sosiologi
1.
Ibnu
Khaldun
IBNU
KHALDUN (1332-1406 )
Pendidikan Ibnu Khaldun. Seorang sarjana sosiologi
dari Italia, Gumplowiez melalui penelitiannya yang cukup panjang, berpendapat,
”Kami ingin membuktikan bahwa sebelum Auguste Comte (1798-1857M) dan Giovani
Vico (1668-1744M) telah datang seorang muslim yang tunduk pada ajaran agamanya.
Dia telah mempelajari gejala-gejala sosial dengan akalnya yang cemerlang. Apa
yang ditulisnya itulah yang kini disebut sosiologi. (Gumplowiez, Ibnu Khaldun,
Arabischersoziologe des 14 jahrundert. Dalam ‘Sociologigsche
Essays:PP.201-202).
Sejarawan dan Bapak Sosiologi Islam ini dari
Tunisia. Ia keturunan Yaman dengan nama lengkapnya Waliuddin bin Muhammad bin
Abi Bakar Muhammad bin Al Hasn.
Label:
Peletak Dasar Sosiologi

Sejarah Sosiologi pendidikan
A. Sejarah Sosiologi Pendidikan
Sosiologi ini dicetuskan oleh Aguste Comte maka dari
itu dia dikenal sebagai bapak sosiologi, ia lahir di Montpellier tahun 1798. ia
merupakan seorang penulis kebanyakan konsep, prinsip dan metode yang sekarang
dipakai dalam sosiologi berasal dari Comte. Comte membagikan sosiologi atas
statika social dan dinamika social dan sosiologi mempunyai cirri-ciri sebagai
berikut:
1. Bersifat empiris yaitu didsarkan pada observasi dan akal
sehat yang hasilnya tidak bersifat spekulatif.
2. Bersifat teoritis yaitu selalu berusaha menyusun
abstraksi dan hasil observasi.
3. Bersifat kumulatif yaitu teori-teori sosiologi dibentuk
berdasarkan teori yang ada kemudian diperbaiki, diperluas dan diperhalus
4. Bersifat nenotis yaitu tidak mempersoalkan baik buruk
suatu fakta tertentu tetapi untuk menjelaskan fakta tersebut.
Comte
mengatakan bahwa tiap-tiap cabang ilmu pengetahuan manusia mesti melalui tiga
tahapan
Label:
sejarah sosiologi pendidikan

Sabtu, 18 Juni 2011
Karakteristik KTSP
Karakteristik KTSP
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum yang disusun di tingkat satuan pendidikan sehingga mempunyai karakteristik yang membedakan dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya. Adapun karakteristik dari KTSP adalah :

Jumat, 17 Juni 2011
pendidikan
Tentang pendidikan yang sangat lengkap. silahkan klik disini
Label:
tentang pendidikan

Jumat, 10 Juni 2011
Nilai-nilai masukan (input values)
Nilai-nilai masukan (input values), yakni nilai-nilai yang dibutuhkan dalam diri setiap pegawai Depdiknas dalam rangka mencapai keunggulan, yang meliputi:
Amanah
Memiliki integritas, bersikap jujur dan mampu mengemban kepercayaan.
Profesional
Memiliki pengetahuan dan kemampuan yang memadai serta memahami bagaimana mengimplementasikannya.
Antusias dan bermotivasi tinggi
Menunjukkan rasa ingin tahu, semangat berdedikasi serta berorientasi pada hasil.
Bertanggung jawab dan mandiri
Memahami resiko pekerjaan dan berkomitmen untuk mempertanggung-jawabkan hasil kerjanya serta tidak tergantung kepada pihak lain.
Kreatif
Amanah
Memiliki integritas, bersikap jujur dan mampu mengemban kepercayaan.
Profesional
Memiliki pengetahuan dan kemampuan yang memadai serta memahami bagaimana mengimplementasikannya.
Antusias dan bermotivasi tinggi
Menunjukkan rasa ingin tahu, semangat berdedikasi serta berorientasi pada hasil.
Bertanggung jawab dan mandiri
Memahami resiko pekerjaan dan berkomitmen untuk mempertanggung-jawabkan hasil kerjanya serta tidak tergantung kepada pihak lain.
Kreatif

Senin, 06 Juni 2011
Kompetensi Kepala Sekolah
Kompetensi Kepala Sekolah
Kompetensi adalah kemampuan atau kecakapan yang diperlihatkan seseorang ketika melakukan sesuatu. Memahami visi dan misi serta memiliki integritas yang baik saja belum cukup. Agar berhasil, kepala sekolah harus memiliki kompetensi yang disyaratkan untuk dapat mengemban tanggung jawabnya dengan baik dan benar. Apa saja kompetensi yang harus dimiliki kepala sekolah? Setidaknya ada kesepakatan bahwa kepala sekolah perlu memiliki sejumlah kompetensi berikut (diadaptasi dari CCSSO, 2002).
Label:
Kompetensi Kepala Sekolah

Kamis, 02 Juni 2011
Artikel Dehumanisasi Pendidikan
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Istilah dehumanisasi pendidikan sering dilontarkan di media masa oleh para pengamat an praktisi pendidikan. Beberapa di antaranya ada secara tersirat dalam tulisan bertajuk 'sekolah yang membunuh siswanya' dan malpraktik dalam dunia pendidikan'. (Kompas, 16 Mei 2005). Penggunaan istilah dehumanisai itu mengisaratkan sebagai kritik terhadap beberapa kebijakan pendidikan yang dewasa ini telah dinilai melenceng dari konsep pendidikan yang sebenarnya. Immanuel Kant menyatakan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Menurut John Duwey juga mengatakan bahwa pendidikan adalah memanusiakan manusia. Menurut konsep ini, anak manusia harus dididik oleh manusia, dengan cara manusia, dan dalam nuansa kehidupan manusia. Dengan cara itu, anak manusia itu akan tumbuh dan berkembang menjadi manusia seutuhnya.
Dehumanisasi merupakan satu masalah mendasar dalam sistem pendidikan nasional. Pendidikan saat ini tidak lagi menghormati dan menghargai martabat manusia dan segala hak asasinya. Akibatnya, melalui proses pendidikan peserta didik tidak tumbuh dalam kemanusiaan sebagai subyek. Mereka justru menjadi korban dalam sebuah sistem yang memaksa mereka mengikuti aturan dalam sistem itu. Alih-alih pembentukan dan pembudayaan yang mereka peroleh. Yang mereka dapat justru stres karena aturan dan pemaksaan yang dibuat oleh orang dewasa terhadapnya tidak mengedepankan psikologi perkembangan peserta didik. Bagaimana mungkin untuk menanamkan mental dan sikap kerja keras, peserta didik dipaksa stres dan bekerja keras memikirkan persiapan ujian nasional (UN) sepanjang tahun.

Langganan:
Postingan (Atom)